Sang Burung Pelikan

0
359

Anda pernah melihat langsung burung Pelikan atau burung Undan? Burung Pelikan adalah burung yang unik karena memilik kantung dibawah paruhnya. Selain itu, burung ini juga perenang yang hebat. Kakinya pendek, kuat dan berselaput. Nah, kalau belum pernah liat, tuh di Wisma Sanjaya Muntilan ada. Keberadaan burung Pelikan di Pusat Pastoral Keuskupan Agung Semarang itu tentu memiliki sejarah dan makna.

Dalam tradisi Gereja Katolik, burung Pelikan bukan barang yang asing. Thomas Aquinas, dalam Adoro Te Devote, mengisahkan Yesus, Sang Pelikan yang baik. Ada sekian banyak lukisan atau ornamen burung ini. Pelikan dihubungkan dengan Ekaristi. Kisah Pelikan dalam tradisi Katolik dikaitkan dengan cerita kuno mengenai burung ini. Kisah itu diceritakan secara singkat dalam Surat Gembala HPS tahun 2011 oleh (Alm.) Mgr Pujasumarta: “Di kalangan bangsa burung ada kisah tentang keluarga burung Pelikan di hutan yang subur. Konon, ketika musim kemarau tiba, kekeringanlah terjadi. Makhluk-makhluk hutan menderita, tidak terkecuali keluarga burung Pelikan. Bencana kelaparan melanda hutan tersebut. Induk Pelikan tidak diam saja menyaksikan anak-anaknya hampir mati kelaparan dan kehausan. Ada suara lirih namun jelas terdengar oleh Induk Pelikan, “Kamu harus memberi mereka makan!” Namun, tidak tersedia makan dan minum lagi untuk mereka. Induk Pelikan tidak kehilangan akal. Ia sorongkan temboloknya, seakan berkata kepada anak-anaknya, “Makanlah tubuhku, minumlah darahku!” Kalau induk Pelikan saja mendengar suara tersebut dan bertindak menurut suara itu, agar anak-anaknya selamat…”

 

Gambaran burung Pelikan ini juga dapat dilihat dalam tongkat uskup Keuskupan Agung Semarang.  Desain tongkat gembala itu disesuaikan dengan simbol yang dipakai oleh Kardinal Yustinus Darmajuwono. Sesudah Kardinal Darmajuwono, pemakaian tongkat gembala itu dilanjutkan oleh uskup-uskup berikutnya.

Mgr Puja juga membuat sebuah lagu berjudul Pie Pellicane.  Lagu ini merupakan pengembangan dari bait keenam lagu “Adoro te devote” ciptaan Santo Thomas Aquinas: “Pie pellicane, Iesu Domine, me immundum munda tuo sanguine; cuius una stilla salvum facere totum mundum quit ab omni scelere.”

Ketertarikan Mgr Puja pada burung ini, menginspirasi beliau untuk membuat kolam bagi spesies burung ini. “Saya mendengar ada rencana untuk membuat kolam air di kawasan Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan (PPSM). Sebagai sarana animasi yang hidup saya berpikir, sangatlah baik bila kolam tersebut dirancang untuk menjadi habitat yang nyaman bagi burung pelikan. Pemeliharaan dan pengamatan langsung mengenai kehidupan pelikan dapat menjadi bahan pembelajaran bagi hidup beriman kita. Ayo kita bermimpi dapat berternak burung pelikan di PPSM. Siapa mau membantu untuk mewujudkan mimpi itu? May the dreams come true. Mimpi beliau disampaikan pada 20 September 2014.

 

Mimpi itu telah terwujud. Sebuah warisan, bukan hanya kolam dan burung Pelikannya, renungan yang dalam mengenai burung ini telah diberikan kepada kita, umat Keuskupan Agung Semarang. Kisah burung Pelikan yang adalah gambaran Kristus sendiri. Memberi diri, bahkan ketika harus mengurbankan diri sendiri, demi nilai yang lebih tinggi, menjadi sebuah ajakan yang harus dihidupi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, cita-cita Keuskupan Agung Semarang akan pribadi yang beriman, bermartabat, dan sejatera akan menjadi semakin nyata dalam hidup umat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here